Ilmu Pembibitan Teh

Pembibitan teh di bengkulu

Produksi Teh di Indonesia

Teh merupakan salah satu produksi dan konsumsi para penduduk indonesia untuk dijadikan bahan pembuat  minuman, bahkan banyak dari sekian perusahaan-perusahaan di tanah air ini yang produksi utamanya adalah membuat minuman berkemas atau berlabel dan berbahan utama teh. Hampir seluruh orang di dunia ini pernah merasakan minuman yang berasal dari teh. Ini membuktikan bahwa teh merupakan komoditas tanaman yang begitu mendunia.

Pengenalan Pembibitan Teh

Tanaman teh dapat diperbanyak dengan 2 cara yaitu secara generatif dan vegetatif. Cara generatif dilakukan menggunakan biji sedangkan dengan cara vegetatif dapat dilakaukan dengan cara stek.

Persiapan bahan tanam teh secara generatif maupun vegetatif diuraikan sebagai berikut ini :

Perbanyakan Generatif (Biji)

Pembibitan teh dibengkulu, generatif, vegetatif

  1. Pemilihan Biji

Pertama-tama pilihlah pohon induk teh yang berkualitas, pohon itu bukan untuk diproduksi daun tehnya namun untuk diambil bijinya yang dijadikan sebagai benih pilihan bermutu baik. Biji teh yang dipetik seterusnya dilakukan proses penyeleksian untuk mendapatkan biji teh yang benar-benar masak fisiologis dan memenuhi syarat benih bermutu baik. Beberapa ciri biji teh yang baik sebagai berikut: warna kulit biji hitam dan mengkilat, biji penuh terisi berwarna putih, bentuk dan ukuran harus sesuai dengan jenis klonnya (Hossain et al 2013). Cara lain untuk mengetahui bahwa biji tersebut baik adalah  dengan cara merendam biji teh ke dalam air, bila biji itu baik maka akan tenggelam.

  1. Penyimpanan Biji

Penyimpan biji dilakukan dengan memberi fungisida dan dicampur merata dengan bubuk arang, kemudian dimasukkan ke dalam kaleng. Kaleng yang digunakan harus bersih dan kering, setelah itu dalamnya dilapisi kertas koran. Kaleng kemudian ditutup dengan penutup yang rapat. Kaleng disimpan di tempat yang teduh tidak terkena sinar matahari, tetapi tidak lembab. Alas kaleng diberi ganjal kayu dan disusun tidak bertumpuk. Daya tahan biji teh yang disimpan dengan cara ini dapat mencapai empat bulan (Syakir et al 2010).

  1. Pembibitan/Persemaian Biji

Pesemaian biji dapat dilakukan langsung di tanah atau dengan polibag. Prinsip kedua cara di atas harus  melalui : pemilihan lokasi lahan subur, topografi rata atau landai (terkena sinar matahari), dekat sumber air, rendah pemeliharaannya, dekat jalan, pengawasan serta transportasi bibit mudah. Pengecambahan biji dilakukan pada bak ukuran lebar 100 cm, panjang 400 cm, tinggi atap bagian depan 150 cm, dan bagian belakang 75 cm. Bagian belakang, sisi kiri dan kanan ditutup rapat dengan dinding bambu. Biji ini yang sudah berkecambah segera ditanam di bedengan atau polibag.

  1. Pemeliharaan

Tempat pesemaian perlu diperhatikan agar biji yang disemaikan dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Biji yang tidak tumbuh dalam waktu satu bulan segera disulam dengan biji baru. Penyiangan dilakukan setiap satu setengah bulan secara manual tergantung dari gulma yang tumbuh. Pengendalian hama dan penyakit dilakukan apabila terlihat adanya serangan hama dan penyakit. Bibit di persemaian diberi pemupukan empat kali dalam satu tahun untuk mempercepat pertumbuhan. Pemberian  air  harus  dilakukan  terutama  pada  musim kemarau (Syakir et al 2010).

  1. Pindah tanam (Transplanting)

Setelah bibit berumur 2 tahun di persemaian dan telah memenuhi syarat, maka bibit siap ditransplanting ke kebun. Batang dipotong setinggi 15 – 20 cm di atas tanah dua minggu sebelum dibongkar. Bibit   dibongkar sedalam 60 cm dengan cangkul. Kemudian bibit dicabut   dengan tangan agar akar rambut tidak  rusak. Bibit yang telah  dibongkar dari bedengan pada hari yang sama harus sudah ditanam di kebun.

Perbanyakan Vegetatif

kebun teh bengkulu, teh oolong

  1. Pengambilan Stek

Cara pengambilan stek adalah sebagai berikut: ranting stek diambil 4 bulan setelah dipangkas, ranting stek dipotong setinggi 15 cm dari bidang pangkasan pada perbatasan warna coklat dan hijau. Stek diambil dari ranting stek sepanjang 1 ruas dan mempunyai 1 helai daun. Stek yang dipakai adalah bagian tengah ranting stek berwarna hijau tua. Pemotongan stek dilakukan dengan pisau tajam, dimana setiap potongan diambil ruas dengan satu lembar daun 0,5 cm di atas dan 4-5 cm di bawah ketiak daun dengan kemiringan 450. Stek yang dikumpulkan ditampung dalam ember berair maksimal 30 menit. Stek segera ditanam di pembibitan, apabila tempatnya jauh perlu dikemas dalam kantong plastik. Sebelum ditanam dan dikemas dikantong plastik dicelupkan ke dalam larutan fungisida dan hormon tumbuh selama dua menit.

  1. Persemaian

Sebelum ditanam di bedengan, sebaiknya stek ditanam terlebih dahulu dipendederan. Bagian yang ditanam adalah 0,25 bagian dari internodial atau ¾ dari batang sebelum daun dan jangan memadatkan tnah. Setelah itu lalu disiram dan penyiraman dilakukan 2x sehari.

  1. Pembuatan Bedengan

Ukuran bedengan lebar 1 meter dan panjang tergantung keadaan tetapi maksimal 15 meter. Antar bedeng satu dengan yang lain diberi jarak 60 cm. Antar bedengan juga dibuat parit untuk saluran air sedalam 10 cm. Polibag disusun dengan rapi berbaris tegak kemudian ditutup plastik agar tidak kena air hujan. Media tanah untuk polibag perlu dicampur dengan pupuk, fungisida, fumigan dan tawas. Di atas bedengan dibuat rangka sungkup dari bambu. Sesudah  itu  bedengan  disungkup  dengan  lembaran plastik.

  1. Penanaman Stek

Sehari sebelum ditanam, polibag yang telah diatur dalam bedengan disiram dengan air sampai dengan cukup basah.  Tangkai  stek  dicelupkan  pada  larutan  fungisida  dan hormon tumbuh selama 1 – 2 menit. Stek ditanam dengan menancapkan tangkainya ke dalam tanah di polibag dengan daun menghadap kearah tangan. Arah daun harus condong ke atas tidak saling menutupi. Setelah stek ditanam disiram air bersih jangan sampai tangkai stek goyah. Penyiraman  pertama 3-4 minggu, seterusnya diatur sesuai kebutuhan. Bedengan ditutup dengan sungkup plastik. Pembukaan sungkup dilakukan  setelah stek berakar dan pertumbuhan tunas sudah merata ± 15 cm (Fatma dan Fikri 2004).

  1. Seleksi Bibit

Pelaksanaan seleksi bibit dilakukan pada umur 6 bulan setelah bibit tumbuh. Bibit yang tumbuh sehat dipisahkan dari yang kecil. Bibit yang   baik dipindahkan keluar agar beradaptasi di bawah sinar matahari. Kriteria bibit siap tanam sebagai dasar penentuan mutu bibit adalah sebagai berikut: umur bibit minimal 8 bulan, tinggi minimal 30 cm dengan jumlah daun 5 helai, tumbuh sehat, mekar dan berdaun normal. Perakaran baik, terdapat akar tunggang semu dan tidak ada pembengkakan kalus. Beradaptasi minimal 1 bulan terhadap sinar matahari.